Ingin tahu ulasan mengenai film-film lama hingga yang terbaru? Ingin tahu film-film apa yang wajib ditonton dan yang tidak? Jangan lupa kunjungi Our Cinema Sanctuary, blog berisi review2 film (yg pastinya sudah saya tonton, hehe...). See you there...!!!
Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket
Showing posts with label My Movie Reviews. Show all posts
Showing posts with label My Movie Reviews. Show all posts

Friday, 21 August 2009

cin(T)a Memang Gila...

Pertama kali saya mengetahui keberadaan film cin(T)a adalah ketika teman saya, Anom, sharing trailer film tersebut dari YouTube ke FB, dan men-tag saya pada video tersebut. Pertama kali saya menonton Trailer-nya pun, saya sudah terpesona. Terpesona dengan ceritanya, terpesona dengan tampilan gambarnya, sampai terpesona dengan soundtrack-nya.

Saya waktu itu berfikir, ini adalah salah satu film yang harus masuk ke dalam daftar film yg akan saya tonton. Apalagi setelah mengetahui, bahwa film itu sebelum ditayangkan di Indonesia, sudah ditayangkan terlebih dahulu di manca negara, yaitu di Inggris. Film tersebut juga ditayangkan di sebuah festival film Asia (saya lupa nama festivalnya apa) yang diadakan di Yogyakarta. Dalam waktu dekat ini, film tersebut juga akan ditayangkan di Australia. jelas film ini bukan film sembarangan.

Saya sangat excited menunggu film tersebut diputar di Indonesia. Akhirnya, setelah menunggu beberapa bulan, film cin(T)a akhirnya diluncurkan di Jakarta dan Bandung, dan tiketnya dijual untuk umum mulai tanggal 19 Agustus 2009, hanya di Blitz Megaplex GI, MOI, Teras Kota, dan Paris van Java.

Saya dan Ode segera memutuskan harus menonton film tersebut, maka kami menonton pada 20 Agustus 2009 di Blitz Megaplex MOI. Hasilnya??? Luar biasa!!! Mau tahu lebih lanjut mengenai ulasan film cin(T)a? Klik saja: Our Cinema Sanctuary.

Sunday, 28 June 2009

The OVERRATED Transformers Sequel

Sepertinya beberapa minggu ini adalah minggu tersibuk bagi para pengusaha dan para pekerja bioskop di Indonesia. Bagaimana tidak? Selain summer movies Hollywood yang datang bertubi2 memanjakan para penikmat film, para sineas Indonesia juga tidak mau kalah meluncurkan karya-karya mereka.

Yang paling kentara adalah diluncurkannya film Ketika Cinta Bertasbih, yang menyedot ribuan penonton. Bahkan saya sempat mendengar di salah satu siaran berita nasional, di sebuah kota di daerah Jawa Tengah, penonton harus membeli tiket bioskop film tersebut secara indent (booking) untuk hari berikutnya! Luar biasa...

Fenomena besar lainnya adalah diluncurkannya film keluaran Hollywood, yaitu Transformers: Revenge of the Fallen. Setelah sukses meluncurkan film Transformers pertama di tahun 2007 silam, sepertinya sutradara Michael Bay ingin mendulang sukses dengan meluncurkan kelanjutan film tersebut.

Demam Transformers dimulai. Banyak berita (dari teman2 saya) yang mengabarkan (lagi-lagi) ribuan orang memadati bioskop untuk menonton film tersebut. Tiket bioskop untuk pertunjukan malam hari pun sudah habis terjual sejak siang hari. Saya pun termasuk jajaran orang2 yang beberapa kali kehabisan tiket bioskop, karena saya mencari tiket selalu setelah jam pulang kantor, yang pastinya kalah dengan orang-orang lain yang mencari tiket ketika jam makan siang.

Akhirnya, di hari Jumat 26 Juni kemarin, saya dan teman2 bertekad mendapatkan tiket. Sebetulnya tidak hanya sembarangan asal dapat tiket. Tapi tiket dengan posisi enak (jajaran bangku tengah ke belakang) incaran hampir semua orang, dari pada memaksakan menonton tapi leher encok plus pusing karena duduk di jajaran paling depan, juga tiket yang tidak menguras kantong alias MURAH, hehe... Karena kecil kemungkinannya kami bisa mendapatkan tiket seperti itu di Bioskop 21 (pasti penuh) dan BLITZ (agak mahal, hehe...), kami kemudian mencari alternatif lain, yaitu bioskop MPX di Pasaraya Grande Blok M. Karena pengalaman yang pernah saya dapat, tempatnya lumayan nyaman, harga tiket terjangkau, dan tempatnya tidak begitu populer dibandingkan yang lainnya.

Setelah jam pulang kantor, saya, Ananta, dan Santo buru-buru meluncur ke TKP. Setelah berjuang menerjang kemacetan parah di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin (lapor Pak Polisi, ternyata 3 in 1 sama sekali TIDAK EFEKTIF!), kami akhirnya tiba di MPX, di mana Ode juga sudah menunggu di sana. Dan ternyata........ MPX pun penuh! Jujur, saya pun sampai tertegun. Namun alhamdulillah, kami berhasil mendapatkan 4 buah tiket di jajaran tengah, untuk pertunjukan film pukul 21.15 WIB. Akhirnya kami bisa bernafas lega.

Film ini diawali dengan aksi kerja sama antara para Autobots yang dipimpin Optimus Prime (Peter Cullen) dengan tentara Amerika Serikat yang dipimpin Major Lennox (Josh Duhamel). Misi mereka adalah memusnahkan sisa2 Decepticons yang masih bersembunyi di seluruh penjuru bumi. Bersamaan dengan itu, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) memulai kehidupan barunya sebagai mahasiswa dan harus menjalani Long Distance Relationship (LDR) dengan kekasihnya, Mikaela Banes (Megan Fox).

Tanpa sengaja, Sam menemukan potongan Allspark yang dahulu diburu oleh para Decepticons, dan seketika itu pula otaknya menerima transfer sejumlah data yang merupakan kunci rahasia awal mula keberadaan para Transformers di bumi. Karena itulah akhirnya Sam kembali diburu oleh Decepticons untuk memperoleh data tersebut, agar Fallen (Tony Todd), pemimpin Decepticons dapat membalaskan dendamnya kepada Optimus Prime.

Secara keseluruhan, film ini memiliki teknik Computer Generated Imagery (CGI) yang bagus, yang membuat sosok Transformers terlihat nyata, serta adegan2 pertempuran antar robot yang begitu memanjakan pandangan. Namun selebihnya, tidak ada lagi yang istimewa. Dari segi ide cerita sebetulnya lumayan bagus, tapi dirusak dengan plot yang terlalu diputar-putar dan terlalu dipanjang-panjangkan, sehingga banyak adegan yg sebetulnya tidak begitu penting.

Unsur komedinya kerap berlebihan, begitu juga eksploitasi karakter Mikaela yang kemunculannya selalu diiringi musik latar yang agak "murahan". Sepertinya sosok Megan Fox di film ini memang hanya untuk memuaskan mata para penonton kaum lelaki, tanpa didukung akting yang berarti. Kemunculan sosok2 robot baru memang menarik perhatian, namun mereka juga tidak banyak memberi peran penting, selain sebagai pewarna menarik yang disertai dengan gaya bicara gangster ala rapper.




Akibatnya, saya sampai tertidur di pertengahan film karena bosan! Weeeeww... Hal itu bisa dikatakan SANGAT jarang terjadi bagi saya yg sangat menyukai film. Padahal saya mengharapkan film kedua ini bisa sebagus film yang pertama, bahkan bisa lebih bagus. Tapi yg saya dapat malah kecewa, dan sangat tidak sebanding dengan usaha saya untuk mendapatkan tiketnya.

Tapi ini semua cuma opini saya lho, karena selera orang berbeda-beda. Teman2 saya juga ada yang menganggap film ini kurang memuaskan, tapi banyak juga yang sangat menyukainya, sampai mau menonton ulang. Dari pada bingung, lebih baik teman2 menonton sendiri dan menilai sesuai dengan pendapat masing2 ya... Mumpung kita masih diberi kebebasan untuk berpendapat.

"Fate rarely calls upon us at a moment of our choosing" (Optimus Prime)

Saturday, 13 June 2009

Quinto was Born to be Spock

STAR TREK.
Apa yang ada di benak Anda kalau mendengar kata itu? Salah satunya mungkin: pesawat ruang angkasa, jadul (jaman dulu), film seri yang ngetop dari zaman 70-an hingga 90-an, hingga karakter2 seperti Captain Kirk, Spock, Klingon, Romulan, atau yang lebih baru seperti Jean Luc Picard, de el el.

Saya termasuk salah satu penggemar film seri STAR TREK pada tahun 90-an (secara tahun 70-an saya belum lahir dan tahun 80-an lebih familiar dengan film Goggle V, Lion Man, Candy-candy, Lulu, Gaban, dan sejenisnya). Jadi pengetahuan saya tentang Kapten James Kirk dan Spock, dua karakter legendaris dalam STAR TREK tahun 70-an cuma sebatas tahu, tidak pernah ada kesempatan untuk mengetahui lebih dalam tentang karakter mereka dan alur ceritanya.

Makanya, ketika ada kabar bahwa di 2009 akan dibuat film lepas mengenai STAR TREK, apalagi kabarnya akan mengisahkan Kirk dan Spock, saya tertarik untuk menonton. Selain mengobati rasa kangen akan STAR TREK, juga ingin tahu lebih lanjut mengenai dua karakter itu.

Akhirnya, di awal Juni 2009 STAR TREK akhirnya ditayangkan di Indonesia, setelah mengalami penundaan (di Amerika sendiri STAR TREK sudah tayang di awal bulan Mei, beda jadwalnya sampai 1 bulan, gggrrrrhh....). Dan akhirnya, saya bisa menonton film itu kemarin malam di Metropole XXI, pertunjukan terakhir di jam 21.25 WIB.

Di tahun 2233, pesawat Federasi USS Kelvin menyelidiki sebuah badai luar angkasa yang ternyata adalah sebuah lubang hitam (black hole). Dari lubang hitam tersebut tiba2 muncul pesawat Narada milik bangsa Romulan dari planet Romulus. Serta-merta pesawat Narada tersebut menyerang USS Kelvin dengan membabi-buta, sampai mengorbankan Kapten USS Kelvin, Richard Robau (Faran Tahir). Perwira Pertama George Kirk (Chris Hemsworth) yang menggantikan posisi Kapten kemudian mengungsikan seluruh awak USS Kelvin, termasuk istrinya yang hampir melahirkan. Kapten George Kirk mengorbankan dirinya dengan menabrakkan USS Kelvin ke Narada, setelah sebelumnya sempat memberi nama untuk putranya yang dilahirkan di pesawat sekoci penyelamat, James Tiberius Kirk (Chris Pine). James Kirk dikisahkan tumbuh menjadi seorang anak yang pintar namun memiliki watak yang pemberontak.

Kemudian adegan berpindah menuju kisah Spock (Zachary Quinto), seorang bangsa Vulcan yang memiliki kecerdasan luar biasa namun memiliki satu kekurangan, yaitu memiliki ibu yang berasal dari bangsa manusia, Amanda Grayson (Winona Ryder). Seumur hidupnya Spock harus menghadapi dan menerima kenyataan (dan cemoohan) bahwa ia akan selalu dianggap sebagai bangsa campuran, seseorang yang memiliki dua hal yg amat bertentangan: Logika dan Emosi.

Dua tokoh ini kemudian bertemu ketika menjalani pendidikan di Starfleet. Mereka kemudian bersama-sama terlibat aksi seru usaha penyelamatan planet Vulcan dan Bumi, yang diserang oleh musuh lama Kirk, bangsa Romulan. Mengapa bangsa Romulan ingin menghancurkan Vulcan dan Bumi? Apakah usaha Kirk dan Spock melawan Romulan akan berhasil? Dan apa yang membuat Kirk dan Spock berkonflik dan saling membenci? Untuk tahu jawabannya, silakan langsung tonton filmnya ya...

Satu hal yang berada di luar perkiraan saya ketika menonton film ini: STAR TREK tidak hanya bertema Science-Fiction (Sci-Fi), namun juga mengandung unsur Komedi! Jujur, unsur ini membuat film menjadi lebih segar, tidak melulu hanya fiksi diwarnai drama seperti film serinya. Saya sendiri sampai beberapa kali tertawa geli di sepanjang film. Selain itu, teknologi digital yg semakin canggih saat ini juga amat membantu menyajikan gambar2 rumit, khususnya ketika adegan peperangan.

Yang menonjol di sini adalah karakter Kirk dan Spock. Kapten Kirk digambarkan memilik karakter pemberontak, selenge'an, ceroboh, jauh dari kesan serius, bahkan playboy. Saya tidak tahu seperti apakah tokoh Kapten Kirk di film serinya waktu tahun 70-an. Apakah memang seperti itu? Karakter Kirk sangat bertolak belakang dengan karakter Spock. Spock selalu sangat fokus, memiliki pengendalian diri yang tinggi, dan (berusaha) memperhitungkan segalanya dengan logika.

Oh ya, menurut saya film ini memiliki Casting Director yang bagus. Terutama kalau melihat karakter Spock yang sangat, sangat, sangat, mirip dengan pemeran Spock di film serinya. Make-up artist yang handal memang berperan penting juga di sini. Namun ketika mengetahui bahwa Zachary Quinto (pemeran tokoh Sylar dalam serial HEROES) yang didaulat memerankan Spock, mungkin saya hanya salah satu dari jutaan penggemar STAR TREK yang pasti juga mendukung hal itu. Walaupun jujur, saya juga memang penggemar tokoh Sylar (dan Quinto) sejak pertama kali serial HEROES muncul, hehe... Pokoknya, Zachary Quinto memang terlahir untuk memerankan Spock (lebay dot com, hehe...).




"Live Long, and Prosper..." (Spock)

Thursday, 5 March 2009

Fanning was being "Push"-ed So Hard

Bercerita mengenai orang-orang yg memiliki kemampuan super, yang disebut movers (kekuatan menggerakan benda2), watchers (kekuatan melihat masa depan), pushers (kekuatan mempengaruhi fikiran orang lain), shifters (kekuatan mengubah tampilan benda2), sniffers (kekuatan melacak sesuatu), shadows (kekuatan menghilangkan objek yg berada didekatnya), stitchers (kekuatan penyembuh), dan bleeders (kekuatan penghancur melalui suara)--(thanks to Ode who kindly remind me those names), PUSH menyuguhkan sebuah tontonan yg seru, full of special effects. But that's it...! No more special things.

Berawal dari cerita mengenai orang-orang berkemampuan super generasi pertama yang diburu oleh Division, sebuah organisasi yg (mungkin) tugasnya meneliti dan mengembangkan kemampuan para superhuman tersebut. Beberapa tahun kemudian, Division terus berusaha meningkatkan kemampuan para manusia super, namun terus-menerus gagal. Kecuali pada satu percobaan, yaitu percobaan yg dilakukan kepada Kira Hudson (Camilla Belle). Namun karena Kira kabur dari laboratorium, ia pun menjadi objek buruan Division. Di sinilah Nick Gant (Chris Evans), Cassie Holmes (Dakota Fanning), dan para manusia super lainnya (generasi kedua) bekerja sama untuk menyelamatkan Kira dan diri mereka dari kejaran Division.

Banyak hal yg terasa "bolong" pada plotnya. Hal-hal yg tidak terjelaskan, seperti: Mengapa Division mengejar (bahkan bisa membunuh) para manusia super tersebut? Apa latar belakang dan tugas Division, dan untuk apa? Bagaimana nasib ibu dari Cassie Holmes selanjutnya? Seakan2 penonton dianggap seperti sudah mengetahui semua itu tanpa harus dijelaskan lebih detil. Atau jangan2 memang film ini berdasarkan novel best seller yg sudah dibaca oleh puluhan juta orang di dunia? Kalau iya, kok saya belum membacanya ya? Atau jangan2 otak saya yg "gak sampai" mencerna hal2 itu? Sedih amat...

Mengenai ending-nya? Agak parah, nanggung, yg terlintas di fikiran: "Ya elah, cuma gitu doang? Kenapa gak dari awal aja sih begitu?" So shallow.

Mengenai karakter, sepertinya Dakota Fanning yg akan lebih dibahas di sini. Bukannya tidak mau membahas Chris Evans, tapi sejauh ini Evans tidak pernah membuat kesan tersendiri dengan kualitas aktingnya. Oke, Dakota Fanning... Mmmmm... Belum pernah saya tidak terkesan dengan akting Fanning, kecuali di film ini. Karakternya agak terlalu dipaksakan, menjadi remaja 13 tahun yang berpenampilan SANGAT dewasa. Tidak hanya cara berpakaian, namun juga tatanan rambut, cara berjalan, sampai nada bicara (terutama adegan ketika dia mabuk), tidak bisa dibawakan dengan baik oleh Fanning. Entah karena image Fanning yg terlalu lekat dengan anak perempuan kecil baik2, rapuh, dan tidak berdaya, atau memang karena dia kurang dalam riset pendalaman karakter.

Untuk para penggemar Fanning, lebih baik berfikir lagi jika berharap mendapatkan akting total seperti di film2 sebelumnya. Kecuali kalau motifnya memang hanya ingin menonton Fanning, tak lebih dari itu, silakan saja.

Monday, 2 March 2009

India & Indonesia = Sama Saja?

Saya menonton Slumdog Millionaire pada 19 Januari 2009, bertepatan dengan acara Employee Appreciation Day Adira Insurance di Blitz Megaplex Grand Indonesia, di mana saya menjadi salah satu panitia. Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka Ulang Tahun Adira Insurance ke-7 (24 Januari 2009). Acara nonton bareng tersebut dihadiri oleh seluruh karyawan Adira Insurance se-Jabotabek, juga mengundang para media partners Adira Insurance di Jakarta.

Sebelumnya, panitia memilih film Slumdog Millionaire dengan berbagai pertimbangan, yaitu: Pertama, tema film tersebut tidak terlalu "berat" seperti Valkyrie dan tidak terlalu ringan seperti Garfield. Kedua, film tersebut bisa dinikmati semua kalangan dan gender, tidak seperti Bride Wars yg mungkin hanya bisa dinikmati oleh kaum wanita. Ketiga, Slumdog baru saja mendapat piala Golden Globe untuk Best Picture Drama di ajang Academy Award (setelah itu meraih 7 piala Oscar).

Ternyata predikat terbaik itu memang pantas disandang Slumdog. Sinematografi yg apik, cerita yg biasa namun dibuat dengan alur yg luar biasa, hingga musik yang amat menunjang. Sungguh tidak pernah terfikir sebelumnya, sebuah film India dapat disuguhkan dengan cara seperti itu. Yang pasti itu semua karena garapan Danny Boyle, seorang sutradara berkebangsaan Inggris. Karena menurut opini dari beberapa teman, (tidak dengan maksud mendiskreditkan) hampir tidak mungkin seorang sutradara asli India bisa membuat film seperti Slumdog.

Seperti yg sudah diketahui banyak orang, Slumdog Millionaire bercerita mengenai seorang yatim piatu bernama Jamal, bekerja sebagai pembuat teh di sebuah perusahaan telekomunikasi, yg mengikuti acara Who Wants to be a Millionaire di India. Mengapa Jamal bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yg sulit? Motif apakah yg dimiliki Jamal dengan mengikuti acara tersebut? Apakah Jamal berhasil mendapatkan 20 juta Rupees dan menjadi seorang miliarder?

Terdapat hal-hal menarik dalam Slumdog. Yang paling berkesan adalah banyaknya persamaan antara kondisi India yg digambarkan oleh Boyle dengan kondisi di Indonesia. Dimulai dari penggambaran organisasi pengemis yg terkoordinir, daerah slum yg mirip sekali dengan Jakarta, hingga bajaj 4 tak yg kerap terlihat dalam film tersebut.

Satu hal lagi yang tak kalah menarik adalah: adanya Cinderella Syndrome yg melanda masyarakat India, yg juga banyak terjadi di masyarakat Indonesia. Ketika Jamal hanya tinggal menjawab satu pertanyaan terakhir untuk mendapatkan 20 Juta Rupees, seakan-akan perhatian seluruh penduduk di kota Mumbai tersedot ingin menonton acara tersebut. Mereka ingin melihat, apakah seorang pembuat teh (Chai-Wallah, mungkin bisa disamakan dengan OB-Office Boy) dapat menjadi seorang milyarder dalam sekejap. Jamal langsung menjadi idola masyarakat.

Sama seperti yg seringkali kita temukan di Indonesia. Seseorang yg nasibnya "tertindas" selalu mendapat perhatian dan simpati berlebihan dari masyarakat. Jika memang orang tersebut dapat membuktikan bahwa dirinya memang pantas mendapatkan prestasi karena kerja kerasnya, tidak ada masalah. Namun seringkali status dan kedudukannya itu membuat orang seakan-akan buta, tak peduli orang tersebut memiliki potensi atau tidak. Yang penting, orang yg "tertindas" harus selalu diangkat, harus selalu juara, dengan harapan dapat memperbaiki nasibnya. Atau mungkin, para pendukung itu merefleksikan dirinya sendiri sebagai yg tertindas, dan berharap nasibnya seperti tokoh yg dibelanya.

Harapan selalu ada...

Sunday, 1 March 2009

Smith Has It...

Tidak semua aktor dapat memerankan sebuah karakter seperti yang diperankan oleh Will Smith dalam film Seven Pounds. Seorang agen IRS yang sangat emosional. Emosi dalam hal ini tidak hanya menggambarkan kemarahan, namun juga kelembutan, empati yg tinggi terhadap orang-orang yg ia temui, apakah itu para wajib pajak ataupun bukan.

Di awal film, mengutip perkataan teman saya Angki, film2 Hollywood hampir selalu seperti itu, tidak jelas di awal, yang pada akhirnya satu-persatu keping puzzle itu terkuak. Mengapa Ben Thomas (Smith) bertingkah aneh sebagai petugas IRS? Berani memukul seorang pengurus rumah sakit jompo hingga mengatakan kata2 kejam kepada seorang call center buta? Hanya Thomas sendiri yang mengetahui alasannya berbuat seperti itu, yg juga akan diketahui oleh penonton di akhir cerita.

Permainan emosi Will Smith-lah yang sangat menonjol di film ini. Jika Anda pernah menonton Pursuit of Happyness, maka di film ini Anda akan menemukan akting Smith yg sama memukaunya dengan film tersebut. Mungkin juga karena kedua film tersebut digarap oleh sutradara yg sama: Gabriele Muccino. Perbedaannya terletak pada plot, alur cerita, dan motif tersembunyi yang dimiliki tokoh utamanya.

My only word: Beautiful. The story, the character, the emotion, the motive, especially the ending, are beautiful. It effected me so much, so I cried, several times. And I had to rebuild my mood after I saw the movie. Bravo, Smith...!

Saturday, 28 February 2009

Strong + Strong = So So

Tidak selamanya dua hal yang sama kuat menghasilkan sesuatu yang semakin kuat. Hal itu tercermin dari film yg baru saja saya tonton, Righteous Kill.

Film tersebut dibintangi dua orang aktor, yang siapa pun tak kuasa menyangkal kehebatan akting yang dimiliki mereka: Robert DeNiro dan Al Pacino. Pertanyaan awal yang kemudian timbul adalah: akan seperti apakah akting keduanya? Kemudian dilanjutkan dengan harapan: akan sebagus apa filmnya dengan keberadaan dua aktor sekaliber mereka?

Jujur, sebelum menonton film ini, saya sama sekali tidak terbekali oleh apapun, baik dari resensi ataupun recheck situs Ebert. Begitu juga Arnold Linting a.k.a Ode, yg hari itu menjadi teman menonton, juga tidak terbekali apapun. Kami berdua lagi-lagi hanya mengandalkan dua nama besar yg terpampang di poster, berharap (minimal) tidak akan merasa kecewa, seperti apapun jalan ceritanya.

Film tersebut bercerita mengenai dua detektif senior Amerika (DeNiro & Pacino) yang menyelidiki pembunuhan berantai. Mereka sudah menjadi partner selama puluhan tahun, sehingga sudah saling mengerti posisi, karakter, hingga pribadi masing-masing. Itu yang mereka pikir. Namun lama-kelamaan pembunuhan berantai yg sedang mereka selidiki, menguak apa yg sebetulnya terjadi dan menimbulkan konflik yang sebelumnya tidak akan pernah terfikir di antara mereka. Konflik apa? No, I won't tell any further than that. Just watch the film :).

Dari segi cerita sebetulnya menarik, konflik amat terasa, pilihan tepat bagi para penggemar cerita detektif. Namun yg menjadi mengecewakan adalah akting dynamic duo tersebut. Bukan karena mereka berakting buruk (kapan sih mereka berakting buruk?). Namun karena mereka sama2 berakting kuat, seperti terjadi adu karakter -- kalau tidak ingin disebut pembunuhan karakter. Keduanya istimewa, namun karena tidak ada perhitungan kapan mereka harus mengalah satu dengan lainnya, hasilnya menjadikan akting keduanya menjadi "biasa-biasa" saja.

Seharusnya dengan pengalaman akting puluhan tahun yang mereka miliki, mereka bisa mengukur, sejauh mana mereka saling mendukung satu sama lain. Seperti contoh di film The Godfather (1972), di mana Pacino beradu akting dengan aktor kawakan Marlon Brando (woohoo...!). Brando yang memiliki karakter (sangat) kuat berhasil melakukan dua hal: berakting secara total tanpa harus menumbangkan akting lawan mainnya. Brando dapat mengukur, kapan karakter yg diperankannya harus menonjol, dan kapan ia harus "mengalah" untuk dapat membuat lawan mainnya juga diperhitungkan oleh penonton. Hasilnya? The Godfather menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa.

Hal ini menunjukkan prinsip Yin & Yang memang berlaku hampir di setiap keadaan. Tak selamanya yang kuat beradu dengan yang kuat berakhir dengan kemenangan salah satunya. Bisa jadi malah membunuh keduanya. Mengalah tidak selalu menjadi kalah, namun justru bisa membawa kebaikan kepada semua pihak. Bahkan bukannya tidak mungkin, pada akhirnya si pengalah yang malah menjadi pemenang.