Ingin tahu ulasan mengenai film-film lama hingga yang terbaru? Ingin tahu film-film apa yang wajib ditonton dan yang tidak? Jangan lupa kunjungi Our Cinema Sanctuary, blog berisi review2 film (yg pastinya sudah saya tonton, hehe...). See you there...!!!
Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Saturday, 13 June 2009

Quinto was Born to be Spock

STAR TREK.
Apa yang ada di benak Anda kalau mendengar kata itu? Salah satunya mungkin: pesawat ruang angkasa, jadul (jaman dulu), film seri yang ngetop dari zaman 70-an hingga 90-an, hingga karakter2 seperti Captain Kirk, Spock, Klingon, Romulan, atau yang lebih baru seperti Jean Luc Picard, de el el.

Saya termasuk salah satu penggemar film seri STAR TREK pada tahun 90-an (secara tahun 70-an saya belum lahir dan tahun 80-an lebih familiar dengan film Goggle V, Lion Man, Candy-candy, Lulu, Gaban, dan sejenisnya). Jadi pengetahuan saya tentang Kapten James Kirk dan Spock, dua karakter legendaris dalam STAR TREK tahun 70-an cuma sebatas tahu, tidak pernah ada kesempatan untuk mengetahui lebih dalam tentang karakter mereka dan alur ceritanya.

Makanya, ketika ada kabar bahwa di 2009 akan dibuat film lepas mengenai STAR TREK, apalagi kabarnya akan mengisahkan Kirk dan Spock, saya tertarik untuk menonton. Selain mengobati rasa kangen akan STAR TREK, juga ingin tahu lebih lanjut mengenai dua karakter itu.

Akhirnya, di awal Juni 2009 STAR TREK akhirnya ditayangkan di Indonesia, setelah mengalami penundaan (di Amerika sendiri STAR TREK sudah tayang di awal bulan Mei, beda jadwalnya sampai 1 bulan, gggrrrrhh....). Dan akhirnya, saya bisa menonton film itu kemarin malam di Metropole XXI, pertunjukan terakhir di jam 21.25 WIB.

Di tahun 2233, pesawat Federasi USS Kelvin menyelidiki sebuah badai luar angkasa yang ternyata adalah sebuah lubang hitam (black hole). Dari lubang hitam tersebut tiba2 muncul pesawat Narada milik bangsa Romulan dari planet Romulus. Serta-merta pesawat Narada tersebut menyerang USS Kelvin dengan membabi-buta, sampai mengorbankan Kapten USS Kelvin, Richard Robau (Faran Tahir). Perwira Pertama George Kirk (Chris Hemsworth) yang menggantikan posisi Kapten kemudian mengungsikan seluruh awak USS Kelvin, termasuk istrinya yang hampir melahirkan. Kapten George Kirk mengorbankan dirinya dengan menabrakkan USS Kelvin ke Narada, setelah sebelumnya sempat memberi nama untuk putranya yang dilahirkan di pesawat sekoci penyelamat, James Tiberius Kirk (Chris Pine). James Kirk dikisahkan tumbuh menjadi seorang anak yang pintar namun memiliki watak yang pemberontak.

Kemudian adegan berpindah menuju kisah Spock (Zachary Quinto), seorang bangsa Vulcan yang memiliki kecerdasan luar biasa namun memiliki satu kekurangan, yaitu memiliki ibu yang berasal dari bangsa manusia, Amanda Grayson (Winona Ryder). Seumur hidupnya Spock harus menghadapi dan menerima kenyataan (dan cemoohan) bahwa ia akan selalu dianggap sebagai bangsa campuran, seseorang yang memiliki dua hal yg amat bertentangan: Logika dan Emosi.

Dua tokoh ini kemudian bertemu ketika menjalani pendidikan di Starfleet. Mereka kemudian bersama-sama terlibat aksi seru usaha penyelamatan planet Vulcan dan Bumi, yang diserang oleh musuh lama Kirk, bangsa Romulan. Mengapa bangsa Romulan ingin menghancurkan Vulcan dan Bumi? Apakah usaha Kirk dan Spock melawan Romulan akan berhasil? Dan apa yang membuat Kirk dan Spock berkonflik dan saling membenci? Untuk tahu jawabannya, silakan langsung tonton filmnya ya...

Satu hal yang berada di luar perkiraan saya ketika menonton film ini: STAR TREK tidak hanya bertema Science-Fiction (Sci-Fi), namun juga mengandung unsur Komedi! Jujur, unsur ini membuat film menjadi lebih segar, tidak melulu hanya fiksi diwarnai drama seperti film serinya. Saya sendiri sampai beberapa kali tertawa geli di sepanjang film. Selain itu, teknologi digital yg semakin canggih saat ini juga amat membantu menyajikan gambar2 rumit, khususnya ketika adegan peperangan.

Yang menonjol di sini adalah karakter Kirk dan Spock. Kapten Kirk digambarkan memilik karakter pemberontak, selenge'an, ceroboh, jauh dari kesan serius, bahkan playboy. Saya tidak tahu seperti apakah tokoh Kapten Kirk di film serinya waktu tahun 70-an. Apakah memang seperti itu? Karakter Kirk sangat bertolak belakang dengan karakter Spock. Spock selalu sangat fokus, memiliki pengendalian diri yang tinggi, dan (berusaha) memperhitungkan segalanya dengan logika.

Oh ya, menurut saya film ini memiliki Casting Director yang bagus. Terutama kalau melihat karakter Spock yang sangat, sangat, sangat, mirip dengan pemeran Spock di film serinya. Make-up artist yang handal memang berperan penting juga di sini. Namun ketika mengetahui bahwa Zachary Quinto (pemeran tokoh Sylar dalam serial HEROES) yang didaulat memerankan Spock, mungkin saya hanya salah satu dari jutaan penggemar STAR TREK yang pasti juga mendukung hal itu. Walaupun jujur, saya juga memang penggemar tokoh Sylar (dan Quinto) sejak pertama kali serial HEROES muncul, hehe... Pokoknya, Zachary Quinto memang terlahir untuk memerankan Spock (lebay dot com, hehe...).




"Live Long, and Prosper..." (Spock)

Sunday, 7 June 2009

My Personality Disorder

Lagi iseng-iseng baca blog-nya Ode, ada tulisan yg judulnya Personality Disorder Test. Di situ, Ode menjabarkan personality disorder apa saja yg dia punya atau berpotensi muncul di kemudian hari. (Lagi-lagi) Karena iseng, saya coba juga mengambil tes yang sama, dan Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, inilah hasil personality disorder saya:

Disorder | Rating

Paranoid: Low

Schizoid: Low
Schizotypal: Low
Antisocial: Low
Borderline: Low
Histrionic: High
Narcissistic: High
Avoidant: Low
Dependent: Low
Obsessive-Compulsive: Moderate

Mayoritas hasilnya Low. Well, that's good. Tapi... Lihat ada keanehan di situ? Terutama di bagian Histrionic, Narcissistic, dan Obsessive-Compulsive? Dua hal yang pertama ratingnya HIGH, dan hal yang terakhir ratingnya MODERATE. Hmmmm.... Coba deh masing-masing didefinisikan dulu, terus sekaligus dibahas kali ya...

Histrionic
People with histrionic personality disorder are constant attention seekers. They need to be the center of attention all the time, often interrupting others in order to dominate the conversation. They use grandiose language to discribe everyday events and seek constant praise. They may dress provacatively or exaggerate illnesses in order to gain attention. Histrionics also tend to exaggerate friendships and relationships, believing that everyone loves them. They are often manipulative.

Ok, let see. Attention seeker: bener (hihihi). Dominate the conversation: tergantung siapa yang sedang diajak bicara, kalau bos gak mungkin dong... Use grandiose language: kayaknya sering. Dress provocatively: Enggak banget! Exagerrate illnesses: boro-boro, kalau bisa malah jangan sampe sakit. Believe that everyone loves me: pasti dong, hehehe... Manipulative: iya lah, soalnya banyak orang yg lebih manipulatif di dunia dibanding saya, hehehe...

Narcissistic
Narcissistic personality disorder is characterized by self-centeredness. Like histrionic disorder, people with this disorder seek attention and praise. They exaggerate their achievements, expecting others to recongize them as being superior. They tend to be choosy about picking friends, since they believe that not just anyone is worthy of being their friend. Narcissists tend to make good first impressions, yet have difficulty maintaining long-lasting relationships. They are generally uninterested in the feelings of others and may take advantage of them.

Bwahahaha...!!! Ini sih gw banget...!!! But wait... Coba ditelaah dulu satu-persatu. Intinya gak jauh beda sama Histrionic, tapi ada yg beda juga. Choosy about picking friends: enggak banget deh, semua orang bisa jadi temen kok. Tend to make good first impressions: iya lah, kayaknya mayoritas orang kayak gitu kok. Have difficulty maintaining long-lasting relationship: hell no! Relationship yg saya alami mayoritas sampai tahunan kok. Uninterested in the feelings of others and may take advantage: ke orang2 tertentu iya, kenapa harus peduli dengan perasaan orang lain yang juga tidak peduli dengan orang2 lain dan sekitarnya?

Obsessive-Compulsive
While Obsessive-Compulsive personality disorder (OCDP) sounds similar in name to obsessive-compulsive anxiety disorder, the two are markedly different disorders. People with obsessive-compulsive personality disorder are overly focused on orderliness and perfection. Their need to do everything "right" often interferes with their productivity. They tend to get caught up in the details and miss the bigger picture. They set unreasonably high standards for themselves and others, and tend to be very critical of others when they do not live up to these high standards. They avoid working in teams, believing others to be too careless or incompetent. They avoid making decisions because they fear making mistakes and are rarely generous with their time or money. They often have difficulty expressing emotion.

Nah, ini dia yg saya heran... Kayaknya mayoritas yg didefinisikan dalam Obsessive-Compulsive itu gak cocok deh... Saya bukan orang yg perfeksionis, bukan orang yg detil, tidak memiliki standar yg tinggi, tidak keberatan untuk bekerja dalam tim, tidak pelit, dan tidak punya kesulitan sama sekali untuk mengekspresikan emosi. Kalaupun ada, mungkin porsinya sedikit sekali. Yeah, mungkin itu makanya hasilnya cuma Moderate. :)

Khusus mengenai narsis, memang banyak orang yang mengklaim saya narsis. Bahkan sangat narsis. Tapi gak tahu ya, saya tidak melihat sesuatu yg salah untuk menjadi seorang yang narsis. Intinya, saya mencintai diri saya sendiri, dan itu menjadi suatu keharusan. Saya mensyukuri apa yang saya miliki. Saya mensyukuri saya diberi nikmat yang luar biasa dari Allah SWT. Saya bersyukur bisa sekolah, saya bersyukur bisa bekerja, saya bersyukur tidak memiliki cacat fisik, saya bersyukur bisa makan sehat setiap hari, saya bersyukur saya bisa berolahraga, saya bersyukur bisa tertawa, saya bersyukur bisa melakukan apapun yang sudah saya lakukan hingga saat ini.

Rasa syukur itulah yang membuat saya mencintai diri saya. Membuat saya menjadi percaya diri, dan terutama, membuat saya menghargai diri saya sendiri. Karena dengan menghargai diri sendiri dan percaya pada diri sendiri, saya yakin akan bisa menghadapi segala hal di dunia ini. Sesulit apapun keadaannya.

Kesimpulannya, saya bangga menjadi seorang yg narsis! (hehehhee... beneran narsis banget ya?)

Tertarik untuk mencoba Personality Disorder Test? Klik link ini: Personality Disorder Test.

Wednesday, 20 May 2009

I Choose to be HAPPY...!!!

Ini sebuah tulisan yg saya dapat dari seorang teman baik. Tidak tahu ini bersumber dari mana, jadi mohon maaf jika ada pihak2 yg menulis tulisan di bawah dan merasa tulisannya dicuri, karena saya maupun teman saya pasti tidak bermaksud mencuri (sumpah deh...). Tapi yang pasti, saya memuji tulisan ini, karena sangat... sangat... sangat bagus!


John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan ? (Kalau satu arah mah namanya khotbah.)

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, "Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak."

Seluruh ruangan langsung terkejut. "Tidak," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. (Kebayang ga malunya Maxwell saat itu.) Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Malu ui!

Kemudian, lanjut Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"

"Karena," jawabnya, "tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri."

Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.

Contohnya rasul Paulus. Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan. Ia disiksa dan dipenjara, ditolak kanan kiri. Tapi coba lihat surat-suratnya.. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi, berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus bahagia. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia, namun ia bahagia.

Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, atau sesukses apa hidupmu. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak.

-Don't be afraid to make your own choice-