Ingin tahu ulasan mengenai film-film lama hingga yang terbaru? Ingin tahu film-film apa yang wajib ditonton dan yang tidak? Jangan lupa kunjungi Our Cinema Sanctuary, blog berisi review2 film (yg pastinya sudah saya tonton, hehe...). See you there...!!!

Wednesday, 20 May 2009

I Choose to be HAPPY...!!!

Ini sebuah tulisan yg saya dapat dari seorang teman baik. Tidak tahu ini bersumber dari mana, jadi mohon maaf jika ada pihak2 yg menulis tulisan di bawah dan merasa tulisannya dicuri, karena saya maupun teman saya pasti tidak bermaksud mencuri (sumpah deh...). Tapi yang pasti, saya memuji tulisan ini, karena sangat... sangat... sangat bagus!


John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan ? (Kalau satu arah mah namanya khotbah.)

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, "Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak."

Seluruh ruangan langsung terkejut. "Tidak," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. (Kebayang ga malunya Maxwell saat itu.) Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Malu ui!

Kemudian, lanjut Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"

"Karena," jawabnya, "tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri."

Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.

Contohnya rasul Paulus. Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan. Ia disiksa dan dipenjara, ditolak kanan kiri. Tapi coba lihat surat-suratnya.. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi, berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus bahagia. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia, namun ia bahagia.

Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, atau sesukses apa hidupmu. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak.

-Don't be afraid to make your own choice-

9 comments:

  1. tp lingkungan juga punya pengaruh terhdapa pikiran kita. selagi kita tidak memperdulikan sekeliling dan membuat pikiran dan hati berkuasa atas diri kita, maka pilihan ada ditangan kita. tp ketika lingkungan itu dominan sehingga menguasai pikiran dan hati kita, maka rasa bahagiapun akan dipengaruhi oleh lingkungan. contohnya, saya tidak bahagai ketika melihat seorang anak meminta2 sambil menangis krn lingkungan saya berperan terhadap pertumbuhan pola pikir saya dimana saya tahu bahwa seorang anak yg mengemis menunjukkan kedukaan bagi dia dan itu membuat saya ikut berduka.

    tulisan yg bagus mbak..:D

    ReplyDelete
  2. Postingan yang sarat akan pencerahan..... salam kenal.

    ReplyDelete
  3. Selamat yaa telah menjadi pemenang di sayembaranya mbak quinie..hadiahnya apaan??

    ReplyDelete
  4. @Bandit Batak: Aku setuju, lingkungan pasti juga berpengaruh terhadap diri kita. Apalagi jika kita memiliki empati yg tinggi. Dan hal2 itu yg seringkali membuat kita semakin mensyukuri apa yg kita punya, dan bisa menjadi semakin bahagia kan? Thanks komennya yaa... :)

    @Setiawan: Salam kenal juga, thanks udah mampir :)

    @Hamster: Terima kasih ya, kaget juga, hehe... Hadiahnya belum tau niy, surprise kayaknya :P

    @Wulan: Thank you, salam kenal... Btw, nama kita kok kedengeran ampir sama yaa, xixiixi

    ReplyDelete
  5. hmmm..bener banget,maka nikmatilah hidup,do what u want to do..salam kenal ya

    ReplyDelete
  6. @Psycho: If I like it, I'll do it! Thank you dah mampir yaa :)

    ReplyDelete
  7. yes, i choose be happy too :)

    ReplyDelete

Thank you for sharing your thoughts and opinions :)